Materi 1 :
Yudi Latif, MA., Ph.D dengan topik Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri
Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara
1. Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dari Diri Bangsa
Berangkat dari kesadaran identitas bangsa sendiri: sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur. Menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara. Membangun bangsa dimulai dari kesadaran individu sebagai bagian dari masyarakat dan negara.
2. Pembinaan Kesadaran Bela Negara dari Keberagaman Etnis
Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, dan agama. Kesadaran bela negara berarti menjaga persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman. Sikap toleransi, saling menghormati, dan gotong royong adalah bentuk bela negara dalam kehidupan sehari-hari.
3. Manusia sebagai Makhluk Paradoks
Manusia memiliki sifat ganda: individu dan sosial; rasional dan emosional. Dalam kehidupan berbangsa, manusia harus menyeimbangkan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Kesadaran sebagai makhluk paradoks mendorong manusia bertindak adil, bijak, dan bertanggung jawab.
Pancasila – Dasar negara yang menjunjung keadilan, kebenaran, dan kesederhanaan.
UUD 1945 – Landasan hukum tertinggi bangsa.
NKRI – Bentuk negara yang mengedepankan persatuan dan kesatuan.
Bhinneka Tunggal Ika – Semboyan nasional tentang kesatuan dalam keberagaman.
Materi 2 : Prof. Kacung Marijan, Drs., MA.,Ph.D dengan topik Sistem Pendidikan Tinggi
di UNUSA
UNUSA adalah kampus swasta di Surabaya yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, berlandaskan nilai Islam moderat, toleran, dan berbasis kearifan lokal. Visi dan Misi Mencetak lulusan unggul, berakhlak mulia, dan berkontribusi pada pembangunan bangsa dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Aswaja.
Jenjang Pendidikan:
Sarjana (S1)
Profesi (Ners, Dokter)
Diploma (D3)
Sistem Pembelajaran
SKS (Sistem Kredit Semester): Rata-rata 20–24 SKS per semester.
Kurikulum Nasional + Khas UNUSA: Integrasi nilai Aswaja.
MBKM: Magang, proyek desa, pertukaran pelajar.
Metode Pembelajaran: Tatap muka, blended learning, student-centered.
Evaluasi: UTS, UAS, tugas, kehadiran, partisipasi, proyek, IPK.
Penerimaan Mahasiswa Baru
Melalui berbagai jalur:
Prestasi, Ujian Mandiri (UM-UNUSA), SPAN-PTKIN, UM-PTKIN, Jalur Hafidz/hafidzah.
Persyaratan: Ijazah, nilai, surat sehat (untuk kesehatan), dll.
Sistem Penjaminan Mutu
Akreditasi oleh BAN-PT.
Evaluasi pembelajaran, audit mutu internal, tracer study alumni.
Fasilitas & Layanan Mahasiswa
Perpustakaan digital, laboratorium, rumah sakit pendidikan.
Layanan akademik, kemahasiswaan, kegiatan UKM, beasiswa.
Lingkungan Islami yang inklusif.
Biaya & Beasiswa
SPP tetap & variabel, biaya praktikum, registrasi.
Skema cicilan & beasiswa (prestasi, tahfidz, KIP Kuliah, yayasan).
Ciri Khas UNUSA:
Pendidikan berbasis Aswaja.
Fokus di bidang kesehatan.
Keterlibatan aktif dalam masyarakat.
Lingkungan kampus religius & toleran.
Materi 2 : Erisandy Yudhistira dengan topik Penguatan literasi keuangan dan kesejahteraan
mahasiswa
Literasi keuangan yang kuat merupakan fondasi krusial bagi kesejahteraan mahasiswa, tidak hanya selama masa kuliah tetapi juga jauh setelahnya. Berikut adalah pembahasan komprehensif mengenai pentingnya, strategi penguatan, dan dampaknya terhadap kesejahteraan mahasiswa:
I. Mengapa Literasi Keuangan Mahasiswa Penting?
Masa Transisi Kritis: Mahasiswa seringkali pertama kali mengelola keuangan secara mandiri (uang saku, beasiswa, gaji part-time), jauh dari pengawasan langsung orang tua. Tantangan Finansial Khas Mahasiswa: Biaya kuliah yang tinggi dan terus meningkat. Biaya hidup (kos, makan, transport, buku). Keterbatasan sumber penghasilan tetap. Tekanan sosial untuk konsumsi (gadget, gaya hidup, hiburan). Potensi terjerat utang (pinjol, kredit tanpa agunan, KTA). Dampak Langsung pada Kesejahteraan: Kesejahteraan Finansial: Menghindari utang berlebihan, mampu memenuhi kebutuhan dasar, memiliki dana darurat, mulai menabung/investasi. Kesejahteraan Akademik: Mengurangi stres finansial yang bisa mengganggu konsentrasi belajar dan prestasi akademik. Kesejahteraan Mental & Emosional: Mengurangi kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental yang sering dipicu oleh masalah uang. Kesejahteraan Masa Depan: Membangun fondasi kebiasaan keuangan sehat untuk mencapai tujuan jangka panjang (rumah, investasi, pensiun).
Penguatan ini memerlukan pendekatan multi-pihak dan berkelanjutan:
Peran Perguruan Tinggi (Kampus):
Integrasi ke Kurikulum: Menyisipkan materi literasi keuangan dalam mata kuliah wajib (misal: Pengantar Ekonomi, Kewirausahaan) atau mata kuliah pilihan khusus (Manajemen Keuangan Pribadi, Perencanaan Investasi).
Workshop & Seminar Reguler: Mengadakan sesi interaktif dengan topik spesifik:
Pengelolaan anggaran & cash flow.
Memahami utang (pinjaman pendidikan, pinjol, KKT).
Dasar-dasar investasi (reksa dana, saham, emas) untuk pemula.
Perlindungan asuransi (kesehatan, jiwa).
Pengenalan e-wallet & transaksi digital yang aman.
Menghindari penipuan keuangan.
Layanan Konseling Keuangan: Menyediakan konsultan keuangan (bisa internal atau kolaborasi dengan profesional eksternal) untuk konsultasi personal secara gratis atau terjangkau.
Platform Digital: Mengembangkan aplikasi atau portal kampus dengan:
Kalkulator anggaran & pinjaman. Modul pembelajaran online (video, infografis, artikel).
Simulasi investasi.
Informasi beasiswa & pembiayaan kuliah.
Kolaborasi dengan Pihak Eksternal: Menggandeng OJK, Bank Indonesia, lembaga keuangan (bank, fintech), atau komunitas profesional untuk memberikan materi dan sumber daya.
Inisiatif Mahasiswa & Komunitas:
Klub/Komunitas Literasi Keuangan: Membentuk wadah bagi mahasiswa yang antusias untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, dan mengadakan aktivitas (diskusi, webinar, kompetisi).
Program Mentoring: Mahasiswa senior atau alumni yang berpengalaman bisa menjadi mentor bagi mahasiswa junior dalam mengelola keuangan.
Kampanye Kesadaran: Menggunakan media sosial kampus atau komunitas untuk menyebarkan tips, infografis, dan cerita inspiratif tentang manajemen keuangan yang sehat.
Peran Individu (Mahasiswa):
Proaktif Mencari Informasi: Memanfaatkan sumber daya yang tersedia (perpustakaan, internet terpercaya, workshop kampus).
Menerapkan Pengetahuan: Mulai membuat anggaran pribadi, mencatat pengeluaran, menabung secara konsisten (meski kecil), dan menghindari utang konsumtif.
Membangun Jaringan: Bergabung dengan komunitas atau mencari mentor untuk berdiskusi dan bertanya.
Mengembangkan Mindset: Menumbuhkan kesadaran bahwa literasi keuangan adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih baik.
III. Dampak Penguatan Literasi Keuangan terhadap Kesejahteraan Mahasiswa
Peningkatan Kesejahteraan Finansial:
Mahasiswa mampu mengelola uang saku/beasiswa dengan lebih efektif. Penurunan tingkat utang konsumtif yang tidak produktif.Munculnya kebiasaan menabung dan mulai berinvestasi dini. Kesiapan menghadapi biaya tak terduga (dana darurat).
Peningkatan Kesejahteraan Akademik:
Penurunan tingkat stres terkait uang, sehingga fokus belajar meningkat. Potensi peningkatan IPK dan kelulusan tepat waktu. Kemampuan membuat keputusan finansial yang lebih baik terkait pembiayaan studi lanjut.
Peningkatan Kesejahteraan Mental & Emosional: Penurunan gejala kecemasan dan depresi yang berhubungan dengan masalah keuangan. Peningkatan rasa percaya diri dan kontrol atas hidup.
Hubungan sosial yang lebih harmonis (kurang konflik karena uang).
Peningkatan Kesejahteraan Masa Depan: Lulus dengan beban utang yang lebih terkendali (jika ada). Memulai karir dengan fondasi keuangan yang lebih kuat (tidak "nol besar"). Kesiapan untuk merencanakan dan mencapai tujuan hidup jangka menengah dan panjang (rumah, nikah, investasi, pensiun). Menjadi anggota masyarakat yang finansial mandiri dan berkontribusi.
Tantangan & Solusi
Tantangan: Minat mahasiswa yang rendah (dianggap "membosankan"), keterbatasan sumber daya kampus, stigma soal uang, kesulitan menerapkan teori ke praktik.
Solusi:
Pendekatan Menarik: Gunakan gamifikasi, studi kasus nyata, teknologi (aplikasi), dan bahasa yang relevan dengan gaya hidup mahasiswa.
Advokasi & Kolaborasi: Menekankan pentingnya literasi keuangan kepada pihak kampus dan mencari mitra untuk mendukung program.
Lingkungan Aman: Ciptakan ruang diskusi tanpa judgment untuk berbagi masalah keuangan.
Fokus pada Aplikasi Praktis: Berikan workshop yang langsung bisa diterapkan (misal: workshop membuat anggaran dengan aplikasi tertentu).
Kesimpulan:
Penguatan literasi keuangan bukanlah sekadar tambahan pengetahuan, melainkan investasi strategis dalam aset terpenting bangsa: sumber daya manusia berkualitas. Dengan menyediakan akses yang mudah, relevan, dan berkelanjutan terhadap pendidikan keuangan, perguruan tinggi, komunitas, dan mahasiswa itu sendiri secara kolektif dapat membangun generasi yang tidak hanya cerdas akademis, tetapi juga cerdas finansial. Ini adalah kunci untuk membuka pintu menuju kesejahteraan holistik mahasiswa—sejahtera finansial, akademis, mental, dan masa depan—yang pada akhirnya akan mencetak lulusan yang tangguh, mandiri, dan siap berkontribusi maksimal bagi masyarakat.
Komentar
Posting Komentar