resume hari kedua

 


Materi 5 : Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H. - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2024 Tema: Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi


Korupsi adalah kanker yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia merampas hak-hak rakyat, menghambat pembangunan, dan merusak kepercayaan publik. Melawan korupsi bukan hanya tugas aparat penegak hukum atau pemerintah, tapi tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia. Generasi muda adalah kunci dan harapan terbesar dalam membangun Indonesia yang bebas korupsi.

Mengapa Generasi Muda Sangat Penting? Masa Depan Bangsa: Generasi muda akan menjadi pemimpin, profesional, dan warga negara yang menentukan arah Indonesia di masa depan. Nilai integritas yang ditanamkan sejak dini akan menjadi fondasi bagi kepemimpinan yang bersih.

Energi dan Inovasi: Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan penguasaan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sistem transparan, mengawasi penyelenggara negara, dan mengembangkan solusi anti korupsi yang inovatif. Pola Pikir Kritis: Generasi muda cenderung lebih kritis, terbuka terhadap perubahan, dan memiliki idealisme yang tinggi. Ini adalah modal penting untuk menantang status quo dan budaya korupsi yang mengakar.

 Agen Perubahan (Agent of Change): Sebagai generasi yang akan hidup lebih lama, generasi muda memiliki kepentingan langsung untuk mewarisi Indonesia yang lebih baik, adil, dan sejahtera, bebas dari praktik korupsi.integritas: Senjata Utama Generasi Muda Integritas adalah fondasi utama perang melawan korupsi. Bagi generasi muda, integritas berarti:

Kejujuran: Selalu berkata jujur dan bertindak jujur, dalam situasi apapun, baik di depan umum maupun di ruang privat. Tidak ada "kebohongan putih" dalam konteks integritas.

Konsistensi: Antara kata dan perbuatan selalu sejalan. Prinsip yang dipegang tidak berubah bergantung pada situasi atau tekanan.

Tanggung Jawab: Memiliki rasa memiliki terhadap tugas dan peran. Menyelesaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya tanpa mengharap imbalan yang tidak semestinya.

Keadilan: Memperlakukan semua orang secara adil, tanpa pandang bulu, dan tidak menggunakan jabatan atau kekuasaan untuk keuntungan pribadi atau golongan.

Keberanian: Berani mengatakan "TIDAK" pada tawaran suap, gratifikasi, atau praktik koruptif lainnya. Berani melaporkan penyimpangan yang dilihat (whistleblowing).

Kemandirian: Tidak bergantung pada pemberian atau fasilitas yang tidak sah untuk mencapai tujuan. Berjuang dengan kemampuan sendiri.

 Bagaimana Generasi Muda Menjadi Garda Terdepan Anti Korupsi? Mulai dari Diri Sendiri:

Tanamkan Nilai Integritas: Jadikan integritas sebagai kompas dalam setiap tindakan, sekecil apapun. Jujur dalam ujian, tidak mencontek, tidak meminjam tanpa izin, mengembalikan barang temuan. Tolak Praktik Kecil yang Mengarah ke Korupsi: Menolak pungutan liar (pungli), tidak menggunakan "jalur belakang" (koneksi) untuk mempercepat urusan, tidak memberi atau terima hadiah yang bisa mempengaruhi keputusan (gratifikasi). Hidup Sederhana dan Bertanggung Jawab: Kelola keuangan pribadi dengan bijak, hindari gaya hidup konsumtif yang mendorong mencari jalan pintas.Edukasi dan Kesadaran: Belajar Aktif: Cari tahu tentang dampak buruk korupsi bagi bangsa dan rakyat kecil. Pelajari regulasi anti korupsi (UU Tipikor, UU Gratifikasi, dll.). Diskusi dan Sosialisasi: Ajak teman sebaya untuk diskusi tentang bahaya korupsi dan pentingnya integritas. Gunakan media sosial untuk menyebarkan pesan positif. Ikut Organisasi/Komunitas: Bergabung dengan organisasi pemuda, OSIS, atau komunitas anti korupsi (seperti relawan KPK, komunitas anti korupsi kampus) untuk belajar dan beraksi bersama. Pemanfaatan Teknologi: Sosial Media untuk Pengawasan: Gunakan platform sosial media secara bijak dan bertanggung jawab untuk mengawasi kinerja pemerintah, menyebarkan informasi transparansi, dan mengkritisi kebijakan yang berpotensi koruptif. Akses Informasi Publik: Manfaatkan teknologi untuk mengakses informasi publik (misal melalui PPID) dan memantau penggunaan anggaran. Kembangkan Solusi Digital: Ciptakan atau dukung aplikasi/aplikasi yang mempromosikan transparansi, partisipasi publik, dan pengaduan (e-lapor, e-budgeting, dll.).Pengawasan Partisipatif: Awasi Lingkungan Sekitar: Perhatikan penggunaan anggaran di sekolah, kampus, atau lingkungan tempat tinggal. Laporkan jika ada penyimpangan. Gunakan Hak Memilih: Gunakan hak suara dengan cerdas dalam pemilu. Pilih calon pemimpin yang memiliki rekam jejak bersih dan berkomitmen anti korupsi.Partisipasi dalam Musrenbang/FORUM: Ikut serta dalam forum perencanaan pembangunan untuk memastikan aspirasi masyarakat didengar dan anggaran digunakan untuk kepentingan publik.

 Menjadi Contoh dan Inspirasi:

Tunjukkan Prestasi Tanpa Korupsi: Buktikan bahwa kesuksesan sejati diraih melalui kerja keras, kejujuran, dan kompetensi, bukan dengan jalan pintas korupsi. Berkarya untuk Bangsa: Terlibat dalam kegiatan sosial, kewirausahaan, atau inovasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat, menunjukkan bahwa generasi muda adalah solusi. Dukung Sesama Pemuda: Bangun jaringan pemuda yang saling mendukung dalam menjaga integritas dan menghindari lingkungan yang memfasilitasi korupsi.

 Tantangan yang Dihadapi:

Budaya "Kenal Sama" dan "Cepat Selesai": Budaya yang mengutamakan koneksi dan jalan pintas masih kuat. Ketidakpastian Masa Depan: Tekkan ekonomi dan persaingan kerja bisa mendorong beberapa pemuda mencari jalan mudah.Pengaruh Lingkungan: Lingkungan (keluarga, teman, institusi) yang tidak mendukung integritas bisa menjadi penghalang.Rasa Takut Melapor: Ancaman atau ketakutan akan dampak negatif jika melaporkan tindak pidana korupsi.

 Kesimpulan:


Generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi agen perubahan sejati dalam memerangi korupsi. Integritas bukan hanya pilihan, tapi keharusan. Dengan membangun dan menjunjung tinggi integritas sejak dini, generasi muda dapat membentengi diri dari godaan korupsi dan menjadi garda terdepan dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan. Jadilah Contoh dan Inspirasi. Indonesia bebas korupsi bukan lagi mimpi, tapi sebuah tujuan yang bisa diraih jika generasi mudanya memiliki integritas baja dan tekad baja. Kalian adalah harapan, kalian adalah perubahnya! "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya." (Ir. Soekarno) - Dan pahlawan anti korupsi masa kini dan masa depan adalah generasi muda yang berintegritas!


Materi VI : KH Ma'ruf Khozin - Ketua Aswaja Center, PWNU Jawa Timur Tema: Mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja AnNahdliyah 


Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah

1. Landasan Ideologis

  • Aswaja (Ahlusunnah wal Jama’ah): paham keislaman yang berpegang pada Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, dan Qiyas, mengikuti jejak salafus shalih.

  • An-Nahdliyah: corak khas NU yang menekankan moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).

  • Ciri utama: berada di tengah, menghargai keberagaman mazhab, serta mengutamakan kemaslahatan sosial.

2. Peran Mahasiswa UNUSA

  • Penjaga tradisi keilmuan: mempelajari kitab klasik (seperti Ta’limul Muta’allim, Fathul Qorib) dengan pendekatan kontekstual agar relevan di masa kini.

  • Agen moderasi beragama: menjadi pelopor toleransi, menolak radikalisme, serta menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin.

  • Pejuang kemaslahatan sosial: aktif dalam pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan, hingga advokasi isu kemanusiaan.

  • Inovator dalam tradisi: mengadaptasi nilai Aswaja ke dalam teknologi modern, dakwah digital, serta pelestarian budaya lokal.

3. Implementasi di Kampus UNUSA

  • Kurikulum: terdapat mata kuliah wajib Ke-NU-an, Aswaja, dan Pendidikan Agama Islam sebagai dasar ideologis.

  • Kegiatan kemahasiswaan: majelis taklim, UKM Islam, PMII, IPNU/IPPNU, hingga festival budaya NU.

  • Kolaborasi dengan NU: mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan NU seperti muktamar, harlah, dan program sosial kemasyarakatan.

4. Tantangan Generasi Aswaja

  • Globalisasi & radikalisme: menjaga identitas Aswaja di tengah pengaruh ideologi transnasional.

  • Disrupsi digital: menyebarkan narasi moderat di ruang maya yang rawan hoaks.

  • Relevansi pemuda: membuktikan bahwa Aswaja bukan sekadar warisan, tapi solusi bagi persoalan modern.

Kesimpulan
Mahasiswa UNUSA bukan hanya penuntut ilmu, tetapi juga kader peradaban. Mereka dituntut untuk menginternalisasi nilai-nilai Aswaja, menerapkan moderasi, toleransi, dan kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat, serta mengembangkan tradisi intelektual NU agar relevan menghadapi tantangan zaman. Dengan begitu, mereka menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dan masa depan Indonesia yang adil, beradab, serta berkarakter Islam moderat.


Materi VII : Materi VII Muslikha Nourma Rhomadhoni, S.KM., M.Kes. - Kaprodi D4 K3 Tema: Pengenalan Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) di Perguruan Tinggi 


  1. Tujuan penerapan K3L

    • Pertama, K3L bertujuan mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, sehingga pekerja bisa terlindungi dari risiko yang membahayakan.

    • Kedua, K3L juga berfungsi melindungi lingkungan dari pencemaran dan kerusakan, sehingga kegiatan produksi tidak merusak alam.

    • Ketiga, penerapan K3L dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja, karena lingkungan kerja yang aman dan sehat membuat kinerja lebih optimal.

  2. Prinsip penerapan K3 Lingkungan

    • Pencegahan lebih baik daripada penanggulangan → artinya lebih baik mencegah bahaya daripada mengatasi akibatnya.

    • Inovasi teknologi hijau dan ramah lingkungan → mendorong penggunaan teknologi yang efisien, aman, dan minim dampak negatif bagi lingkungan.

    • Penguatan budaya keselamatan dan keberlanjutan → membiasakan semua pihak agar menjadikan keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari budaya organisasi.

  3. Strategi K3 Lingkungan menuju Indonesia Emas

    • Pendidikan dan latihan → meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan pekerja dalam menerapkan K3L.

    • Penguatan regulasi → mempertegas aturan hukum dan standar agar pelaksanaan K3L konsisten.

    • Digitalisasi K3L → memanfaatkan teknologi seperti IoT, AI, dan Big Data untuk melakukan monitoring keselamatan kerja serta kondisi lingkungan secara real-time, sehingga pengawasan lebih efektif dan cepat.


kesimpulan

Penerapan K3L penting untuk mencegah kecelakaan kerja, menjaga lingkungan dari pencemaran, serta meningkatkan kesejahteraan pekerja. Prinsipnya berfokus pada pencegahan, penerapan teknologi hijau, dan penguatan budaya keselamatan. Untuk menuju Indonesia Emas, strategi K3L dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, penguatan regulasi, serta digitalisasi dengan teknologi modern demi menciptakan sistem kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan.


Lihat juga blog teman saya : sarasalsabilah

Instagram: https://www.instagram.com/unusaoffcial/

YouTube: https://www.youtube.com@unusa_offcial

Twitter (X) : https://x.com/unusa_official?lang=en 

tiktok: https://www.tiktok.com/@unusa_official

Yustika Putri Karwati_ Surabaya_18 tahun 

Fakultas keperawatan dan kebidanan 

Prodi D3 keperawatan 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Prodi S1 Keperawatan Unusa Tambah Kelas Baru

Mengapa Memilih Prodi D3 Keperawatan?